Mengatasi Kebisingan Rekaman di Indonesia: Eksperimen Membuat Studio dengan Konsep seperti Anechoic Chamber

Salah satu tantangan terbesar dalam membangun studio rekaman di Indonesia bukan hanya soal kualitas mikrofon, preamp, audio interface, monitor speaker, atau plugin mixing. Ada satu persoalan yang sering kali justru berada di luar kendali seorang musisi dan sound engineer: kebisingan dari lingkungan sekitar.

Masalah ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi proses rekaman, noise dari luar ruangan dapat menjadi gangguan yang sangat serius. Suara kendaraan, motor, mobil, orang berbicara, anak-anak bermain, suara mesin, aktivitas tetangga, suara konstruksi, hingga berbagai suara rumah tangga dapat masuk ke dalam rekaman.

Apalagi karakter permukiman di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, memang sangat berbeda dengan banyak kawasan permukiman di Amerika Serikat. Di banyak wilayah Indonesia, rumah dibangun sangat berdekatan. Bahkan tidak jarang jarak antara satu bangunan dengan bangunan lain hanya berupa gang sempit atau ruang selebar sekitar satu meter.

Kondisi tersebut membuat tantangan membangun studio rekaman menjadi jauh lebih kompleks.

Busa Telur Tidak Sama dengan Kedap Suara

Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi ketika seseorang ingin membuat studio rekaman sendiri. Mereka membeli busa akustik berbentuk telur atau pyramid, kemudian menempelkan sebanyak mungkin pada dinding dengan harapan suara dari luar akan hilang.

Padahal, treatment akustik dan soundproofing adalah dua hal yang berbeda.

Busa akustik pada dasarnya lebih banyak digunakan untuk membantu mengendalikan pantulan suara di dalam ruangan. Material tersebut dapat membantu mengurangi pantulan tertentu, mengontrol karakter ruangan, dan membuat hasil rekaman menjadi lebih terkontrol.

Namun, memasang busa akustik sebanyak-banyaknya bukan berarti membuat ruangan menjadi kedap suara.

Suara dari luar tetap dapat masuk melalui dinding, pintu, jendela, celah konstruksi, ventilasi, plafon, maupun berbagai jalur struktural lainnya.

Inilah yang kemudian menjadi persoalan menarik bagi kami.

Bagaimana jika studio tidak hanya diberikan treatment akustik biasa, tetapi sejak awal dirancang untuk menghadapi sumber kebisingan dari luar?

Masalahnya Ada pada Lingkungan

Studio yang berada di kawasan tenang tentu memiliki keuntungan besar.

Bayangkan sebuah rumah berada di lahan yang luas, dengan jarak puluhan meter dari bangunan tetangga. Ketika seseorang merekam vokal pada malam hari, kemungkinan gangguan suara dari lingkungan tentu lebih kecil dibandingkan rumah yang dikelilingi bangunan lain dari segala arah.

Di Indonesia, khususnya di kawasan permukiman padat, kondisinya bisa berbeda.

Ketika seseorang sedang melakukan take vokal, tiba-tiba terdengar sepeda motor lewat. Beberapa menit kemudian ada orang berbicara di depan rumah. Setelah itu terdengar suara kendaraan lain, suara tetangga, suara pintu, atau aktivitas rumah tangga.

Bagi pendengar biasa, suara tersebut mungkin tidak terasa mengganggu.

Tetapi bagi seorang sound engineer, suara tersebut bisa menjadi masalah besar.

Sebab mikrofon tidak mengenal konsep “suara utama” dan “suara gangguan”. Mikrofon menangkap energi suara yang sampai kepadanya.

Ketika noise sudah masuk ke dalam rekaman, pekerjaan mixing menjadi lebih rumit. Engineer mungkin harus melakukan noise reduction, editing, gating, automation, atau berbagai teknik lainnya. Namun semakin agresif proses tersebut dilakukan, semakin besar pula risiko munculnya artefak pada suara.

Karena itu, solusi terbaik sebenarnya bukan hanya menghilangkan noise setelah rekaman.

Lebih baik mencegah noise masuk sejak awal.

Kami Kemudian Bereksperimen

Dari persoalan tersebut, kami kemudian mencoba bereksperimen dengan pendekatan yang lebih ekstrem.

Kami tidak ingin hanya membuat ruangan yang memiliki karakter akustik bagus. Kami ingin membuat sebuah ruang yang mampu memberikan isolasi suara jauh lebih serius dibandingkan treatment studio rumahan pada umumnya.

Konsep yang menjadi inspirasi kami adalah prinsip ruang dengan tingkat pantulan suara yang sangat rendah seperti pada anechoic chamber.

Namun tentu saja, studio rekaman dan anechoic chamber bukanlah sesuatu yang identik. Anechoic chamber merupakan fasilitas khusus yang dirancang untuk meminimalkan pantulan suara dengan konstruksi dan material tertentu.

Yang kami ambil adalah prinsip berpikirnya: bagaimana menciptakan lingkungan rekaman yang semakin terkontrol, semakin minim pantulan, dan semakin sedikit gangguan dari lingkungan luar.

Dari sinilah kami mulai melakukan rekayasa konstruksi.

Beton sebagai Benteng Pertama

Salah satu pendekatan yang kami gunakan adalah konstruksi dinding dengan massa yang sangat besar.

Kami bahkan membangun struktur dengan beton yang sangat tebal, hingga secara visual dan konstruksinya sudah terasa seperti sebuah bunker.

Pendekatan ini memang ekstrem.

Namun ada alasan fisik di baliknya.

Secara umum, struktur yang memiliki massa lebih besar dapat memberikan resistansi yang lebih besar terhadap transmisi suara dibandingkan konstruksi ringan, meskipun performa kedap suara sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh ketebalan material.

Karena itu, membangun dinding sangat tebal saja tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan.

Detail konstruksi tetap menjadi bagian yang sangat penting.

Celah kecil, sambungan, pintu, ventilasi, jendela, dan jalur struktur dapat menjadi titik masuk suara.

Maka konsep yang kami gunakan bukan sekadar “membuat dinding tebal”, tetapi mencoba menciptakan sistem ruang yang benar-benar terkontrol.

Rockwool Berkualitas Tinggi dan Rekayasa Akustik

Setelah konstruksi utama, kami kemudian mengombinasikannya dengan material penyerap suara seperti rockwool berkualitas tinggi.

Rockwool memiliki fungsi berbeda dari beton.

Jika beton membantu memberikan massa pada konstruksi, material penyerap seperti rockwool digunakan untuk membantu mengendalikan energi suara di dalam sistem dinding dan ruang.

Kami kemudian melakukan rekayasa akustik agar ruangan tidak hanya mampu meredam gangguan dari luar, tetapi juga mempunyai karakter yang sesuai untuk kebutuhan recording.

Ini menjadi bagian yang menarik.

Karena studio yang terlalu banyak pantulan juga bukan kondisi ideal untuk berbagai jenis rekaman.

Ketika suara vokalis keluar dari mulut, suara tersebut seharusnya ditangkap mikrofon dengan karakter yang dapat dikendalikan oleh engineer.

Semakin banyak pantulan ruangan yang tidak diinginkan, semakin sulit pula proses produksi berikutnya.

Hasilnya: Ruangan yang Sangat Terkontrol

 

 

Setelah berbagai eksperimen tersebut dilakukan, kami mendapatkan karakter ruangan yang jauh lebih terkontrol.

Tingkat noise dari lingkungan luar menjadi sangat rendah.

Hal yang paling terasa adalah ketika seseorang berada di dalam ruangan.

Suasana menjadi jauh lebih tenang dibandingkan kondisi ruangan biasa.

Bagi proses rekaman, kondisi seperti ini sangat berharga.

Vokalis dapat melakukan take tanpa terlalu khawatir terhadap suara kendaraan yang lewat. Engineer juga mempunyai sumber audio yang lebih bersih untuk diproses.

Rekaman yang bersih memberikan fleksibilitas lebih besar pada tahap mixing.

Engineer dapat menentukan sendiri apakah sebuah lagu membutuhkan reverb, delay, ambience, saturation, atau efek ruang lainnya.

Dengan kata lain, ruangan tidak terlalu banyak memaksakan karakter kepada rekaman.

Inilah yang kami maksud dengan hasil rekaman yang terasa lebih “forward”.

Vokal dapat terdengar lebih dekat, lebih fokus, dan lebih mudah ditempatkan di dalam mix.

Mengapa Ruangan yang Sangat Kering Bisa Menjadi Keuntungan?

Dalam produksi musik modern, ruangan yang sangat kering justru dapat menjadi keuntungan dalam situasi tertentu.

Bayangkan seorang penyanyi merekam vokal di ruangan dengan pantulan suara yang kuat.

Ketika suara tersebut sudah terekam bersama ambience ruangan, engineer tidak dapat begitu saja menghilangkan seluruh karakter ruangan tersebut.

Sebaliknya, jika vokal direkam di ruangan yang sangat terkontrol, engineer dapat menambahkan karakter ruang secara digital setelahnya.

Misalnya ingin membuat vokal terdengar besar, bisa menggunakan reverb.

Ingin terasa dekat, bisa dibuat lebih dry.

Ingin terdengar seperti berada di ruangan besar, bisa menggunakan convolution reverb atau ambience tertentu.

Dengan demikian, keputusan artistik berada di tangan produser dan sound engineer, bukan ditentukan secara permanen oleh ruangan.

Studio di Indonesia Harus Menjawab Kondisi Indonesia

Pada akhirnya, membangun studio rekaman tidak bisa hanya meniru studio dari negara lain.

Kondisi geografis, kepadatan penduduk, karakter bangunan, budaya permukiman, hingga tingkat kebisingan lingkungan harus dipertimbangkan.

Studio yang berada di kawasan dengan lahan luas tentu menghadapi tantangan berbeda dengan studio yang berada di tengah permukiman padat.

Karena itu, pendekatan terhadap acoustic treatment juga harus disesuaikan.

Bagi kami, eksperimen ini bukan sekadar membuat ruangan yang “kedap suara”.

Kami ingin menjawab persoalan yang sangat nyata dalam produksi musik di Indonesia: bagaimana mendapatkan rekaman yang bersih di tengah lingkungan yang tidak selalu tenang?

Hasil akhirnya bukan hanya tentang beton tebal, rockwool, atau material akustik.

Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen tersebut bekerja sebagai sebuah sistem.

Sebab studio yang bagus bukan sekadar ruangan dengan banyak busa di dinding.

Studio yang bagus adalah ruangan yang mampu memberikan kontrol.

Kontrol terhadap noise.

Kontrol terhadap pantulan.

Kontrol terhadap ambience.

Dan yang paling penting, kontrol terhadap hasil akhir musik.

Dengan lingkungan rekaman yang jauh lebih tenang, seorang musisi dapat lebih fokus pada performa. Sound engineer dapat lebih leluasa melakukan mixing. Sementara produser dapat mengolah karakter suara sesuai visi artistik lagu.

Pada akhirnya, teknologi dan konstruksi hanyalah alat.

Tujuan akhirnya tetap sama: membuat musik terdengar lebih baik.

Ingin Lagu Anda Dibuat Lebih Siap Produksi?

Selain menyediakan lingkungan rekaman yang terkontrol, Escapia Mount Recording juga membantu musisi dalam proses aransemen lagu. Lagu yang bagus tidak cukup hanya memiliki lirik dan melodi yang menarik. Aransemen menentukan bagaimana sebuah lagu berkembang, kapan instrumen masuk, bagaimana dinamika dibangun, hingga bagaimana bagian chorus terasa lebih kuat.

Kami dapat membantu mengembangkan ide lagu mentah menjadi aransemen yang lebih matang dan siap diproduksi. Mulai dari pemilihan sound, drum, bass, chord, layer instrumen, hingga struktur lagu dapat disesuaikan dengan karakter musik yang Anda inginkan. Jika Anda punya demo sederhana berupa rekaman vokal dan gitar, jangan khawatir. Ide tersebut bisa dikembangkan menjadi produksi yang lebih lengkap. Hubungi Escapia Mount Recording untuk menggunakan jasa aransemen lagu dan mulai kembangkan lagu Anda menjadi produksi yang lebih serius.