Kenapa Jarang Ada Musisi yang Bisa Konsisten Menulis Lagu Bagus?

Ada fenomena menarik dalam industri musik yang sebenarnya cukup sering terjadi: seorang musisi menghasilkan satu atau dua lagu yang luar biasa, meledak di mana-mana, disukai banyak orang, tetapi setelah itu kualitas karya berikutnya terasa tidak lagi sekuat lagu pertamanya.

Bukan berarti lagu-lagu setelahnya selalu buruk. Masalahnya adalah standar yang sudah telanjur dibuat oleh karya sebelumnya terlalu tinggi.

Di Indonesia maupun di dunia, kita bisa menemukan banyak musisi yang pernah mengalami situasi seperti ini. Ada musisi yang pada masa awal kariernya mampu menghasilkan lagu dengan lirik yang kuat, melodi yang sederhana tetapi membekas, harmoni yang indah, dan tema yang terasa sangat dekat dengan kehidupan pendengar. Namun ketika karier mulai naik, konsistensi songwriting mereka kadang mulai dipertanyakan.

Nama seperti Nadin Amizah, Nidji, atau Mahalini misalnya, bisa menjadi bahan diskusi menarik mengenai bagaimana ekspektasi publik terhadap seorang musisi berubah setelah mereka mendapatkan popularitas. Bukan berarti karya mereka otomatis menurun, tetapi semakin terkenal seorang musisi, semakin sulit pula mempertahankan standar artistik yang sama karena kehidupan profesional mereka berubah secara drastis.

Ketika Musisi Belum Terkenal Justru Lebih Kreatif

Ironisnya, masa ketika seorang musisi belum terkenal sering kali justru menjadi masa paling subur untuk kreativitas.

Mengapa?

Karena mereka punya waktu.

Musisi yang belum terkenal biasanya belum memiliki jadwal manggung yang padat. Tidak ada perjalanan dari kota ke kota setiap minggu. Tidak ada tuntutan label untuk mengeluarkan single baru. Tidak ada rapat promosi, wawancara media, pembuatan konten, endorsement, pemotretan, atau kewajiban menghadiri berbagai acara.

Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam sendirian di kamar.

Memainkan gitar.

Membuka piano.

Mencoba chord yang sama berulang-ulang.

Menulis satu bait lagu lalu membuangnya.

Merekam demo.

Mendengarkan kembali rekaman tersebut tengah malam.

Kemudian merasa tidak puas dan mengulanginya lagi.

Proses seperti inilah yang sering tidak terlihat oleh pendengar.

Padahal, songwriting yang bagus hampir selalu membutuhkan ruang untuk trial and error.

Lagu yang terdengar sederhana di Spotify bisa saja membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk menemukan bentuk finalnya.

Ketika seorang musisi belum terkenal, mereka memiliki kemewahan untuk gagal.

Dan justru dari kegagalan itulah kemampuan songwriting berkembang.

Setelah Terkenal, Waktu Kreatif Mulai Hilang

Masalah muncul ketika musisi tersebut mulai terkenal.

Tiba-tiba jadwalnya penuh.

Hari Senin latihan.

Selasa terbang ke Jakarta.

Rabu tampil di Bandung.

Kamis wawancara.

Jumat membuat konten.

Sabtu konser.

Minggu pindah kota.

Lalu minggu berikutnya mengulang siklus yang sama.

Secara finansial, tentu ini adalah sesuatu yang sangat positif. Musisi mendapatkan penghasilan, penggemar bertambah, popularitas meningkat, dan karier menjadi semakin profesional.

Tetapi ada konsekuensi yang sering tidak dibicarakan: waktu untuk menjadi manusia biasa berkurang.

Padahal songwriting membutuhkan pengalaman hidup.

Musisi membutuhkan waktu untuk mengalami sesuatu, memikirkan sesuatu, merasakan sesuatu, kemudian mengubah pengalaman tersebut menjadi karya.

Jika setiap hari hanya diisi oleh pekerjaan, dari mana bahan kontemplasinya?

Seorang songwriter tidak bisa selalu diperintah, “Minggu depan harus ada lagu bagus.”

Kreativitas tidak bekerja seperti mesin produksi pabrik.

Kadang ide muncul ketika sedang mandi. Kadang ketika sedang naik kendaraan. Kadang ketika sedang sendirian di kamar. Kadang justru ketika sedang mengalami kegagalan, putus cinta, kehilangan seseorang, atau menghadapi konflik dalam hidup.

Karena itu, kehidupan seorang musisi sebenarnya adalah bagian dari bahan bakar songwriting.

Label dan Tekanan untuk “Kejar Setoran”

Ketika seorang musisi masuk ke industri yang lebih besar, persoalannya menjadi semakin kompleks.

Di awal karier, seseorang mungkin menulis lagu karena ingin mengekspresikan dirinya.

Namun setelah mendapatkan kontrak, lagu juga menjadi bagian dari bisnis.

Ada target single.

Ada jadwal perilisan.

Ada strategi pemasaran.

Ada kebutuhan konten.

Ada deadline album.

Ada target streaming.

Ada kepentingan promosi.

Pada titik tertentu, musisi bisa merasa bahwa dirinya bukan lagi sedang menciptakan lagu, melainkan sedang memproduksi produk.

Inilah salah satu alasan mengapa beberapa lagu setelah kesuksesan besar terasa berbeda.

Bukan karena musisinya tiba-tiba kehilangan kemampuan.

Bisa jadi karena kondisi psikologis dan lingkungan kerjanya sudah berubah.

Dulu ia menulis lagu karena ingin.

Sekarang ia menulis karena harus.

Perbedaannya sangat besar.

Ketika karya berubah menjadi kewajiban, spontanitas dan kejujuran emosional bisa berkurang.

Musisi akhirnya terlalu memikirkan, “Apakah lagu ini akan viral?”

“Apakah cocok untuk TikTok?”

“Apakah masuk playlist?”

“Apakah pendengar akan suka?”

“Apakah bisa menjadi single?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting secara bisnis, tetapi jika terlalu mendominasi proses kreatif, songwriter bisa kehilangan pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

“Apakah saya sendiri menyukai lagu ini?”

Taylor Swift dan Pentingnya Evolusi Kreatif

Salah satu contoh menarik dalam hal konsistensi songwriting adalah Taylor Swift.

Taylor Swift telah menjalani karier panjang dengan berbagai fase musik, tetapi tetap mampu menghasilkan karya baru dan mempertahankan relevansi dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Salah satu rahasianya bukan sekadar produktivitas.

Ia mampu beradaptasi.

Taylor tidak memaksakan dirinya harus selalu bekerja dengan satu formula. Ia juga tidak menganggap bahwa seorang superstar harus mengerjakan seluruh proses musik sendirian.

Ia bekerja dengan berbagai songwriter, produser, dan musisi.

Kolaborasi semacam ini penting karena kreativitas bukan kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling mandiri.

Justru songwriter hebat sering kali tahu kapan dirinya membutuhkan orang lain.

Seorang produser dapat mendengar sesuatu yang tidak didengar songwriter.

Seorang co-writer dapat menemukan satu kalimat yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Seorang arranger bisa mengubah lagu biasa menjadi memiliki identitas sonik yang kuat.

Dengan demikian, kolaborasi bukan tanda bahwa seorang musisi kurang hebat.

Sebaliknya, kemampuan memilih orang yang tepat untuk membantu proses kreatif adalah bagian dari profesionalisme.

Ego “Harus Saya Kerjakan Sendiri”

Ada jebakan lain yang sering terjadi pada musisi: terlalu ingin mengerjakan semuanya sendiri.

Menulis lagu sendiri.

Membuat beat sendiri.

Mengaransemen sendiri.

Recording sendiri.

Mixing sendiri.

Mastering sendiri.

Membuat artwork sendiri.

Mengurus promosi sendiri.

Pada awalnya mungkin terasa membanggakan.

Tetapi lama-kelamaan seorang musisi bisa mengalami creative fatigue.

Otak dipaksa terus-menerus mengambil keputusan.

Chord apa?

Tempo berapa?

Drumnya bagaimana?

Bass-nya apa?

Synth-nya bagaimana?

Vokalnya direkam ulang atau tidak?

Mixing-nya terlalu terang atau terlalu gelap?

Ketika semua keputusan harus dilakukan sendiri, energi kreatif justru bisa habis untuk persoalan teknis.

Akibatnya, songwriter tidak lagi mempunyai energi untuk hal yang paling penting: menulis lagu.

Padahal, tidak ada aturan bahwa musisi hebat harus menguasai seluruh pekerjaan produksi musik.

Seorang penyanyi tidak harus menjadi mixing engineer.

Seorang songwriter tidak harus menjadi sound designer.

Seorang gitaris tidak harus menjadi programmer drum.

Seorang produser tidak harus menjadi master engineer.

Industri musik modern justru berkembang melalui pembagian keahlian.

Lagu Bagus Membutuhkan Ruang untuk Bernapas

Mungkin inilah pelajaran paling penting dari fenomena tersebut.

Konsistensi bukan berarti seorang musisi harus mengeluarkan lagu sebanyak mungkin.

Konsistensi berarti mampu mempertahankan standar kreativitas dalam jangka panjang.

Dan untuk melakukan itu, musisi membutuhkan ruang untuk bernapas.

Musisi perlu memiliki waktu tanpa target.

Waktu untuk tidak menghasilkan apa-apa.

Waktu untuk mendengarkan musik orang lain.

Waktu untuk membaca.

Waktu untuk bepergian.

Waktu untuk jatuh cinta.

Waktu untuk patah hati.

Waktu untuk sendirian.

Waktu untuk mengalami kehidupan.

Karena pada akhirnya, songwriter tidak hanya menulis menggunakan teori musik.

Ia menulis menggunakan pengalaman.

Chord bisa dipelajari.

Teknik vokal bisa dilatih.

Mixing bisa dipelajari.

DAW bisa dikuasai.

Tetapi pengalaman manusia tidak bisa digantikan oleh tutorial YouTube.

Itulah mengapa musisi yang ingin bertahan panjang perlu membangun sistem kreatif yang sehat. Jangan sampai kesibukan manggung justru membunuh kemampuan untuk menciptakan lagu.

Konsistensi Lebih Penting daripada Viral

Industri musik memang sangat menyukai fenomena viral.

Satu lagu bisa tiba-tiba mendapatkan jutaan streaming.

Potongan chorus menjadi populer di media sosial.

Nama musisi langsung dikenal publik.

Tetapi viral hanya menjawab pertanyaan tentang popularitas.

Ia tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang umur panjang sebuah karier.

Karier musik yang panjang membutuhkan katalog lagu yang kuat.

Musisi harus mampu menghasilkan karya kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.

Karena itu, tantangan terbesar songwriter sebenarnya bukan menciptakan satu lagu bagus.

Tantangan sebenarnya adalah menciptakan lagu bagus berulang kali tanpa kehilangan identitas.

Untuk melakukan itu, seorang musisi tidak cukup hanya memiliki bakat.

Ia membutuhkan waktu, disiplin, pengalaman, lingkungan kreatif yang sehat, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian untuk meminta bantuan ketika diperlukan.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah, “Kenapa musisi setelah terkenal tidak bisa menulis lagu sebagus dulu?”

Tetapi:

“Apakah setelah terkenal mereka masih memiliki kehidupan yang memungkinkan mereka untuk menulis lagu?”

Sebab songwriter membutuhkan kontemplasi.

Dan kontemplasi membutuhkan ruang.

Jika seluruh hidup seorang musisi sudah dipenuhi jadwal manggung, perjalanan, promosi, meeting, deadline, dan tuntutan industri, jangan heran jika kreativitasnya mulai kehabisan bensin.

Menjaga karier musik dalam jangka panjang bukan hanya tentang seberapa sering seseorang tampil di atas panggung.

Tetapi juga tentang bagaimana ia menjaga dirinya tetap memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Ketika Ide Lagu Sudah Ada, tetapi Produksinya Buntu

Bagi musisi, songwriter, maupun penyanyi yang sudah memiliki ide lagu tetapi kesulitan menerjemahkannya menjadi aransemen yang matang, menggunakan bantuan orang lain bisa menjadi solusi yang sangat masuk akal.

Di sinilah Escapia Mount Recording menyediakan layanan Jasa Aransemen Lagu untuk membantu mengembangkan ide musik menjadi produksi yang lebih terarah. Anda tidak harus mengerjakan semuanya sendirian. Ide melodi, chord, lirik, atau demo sederhana dapat dikembangkan menjadi aransemen yang lebih utuh dengan mempertimbangkan karakter lagu dan identitas musisinya.

Kolaborasi dengan arranger atau produser juga memungkinkan songwriter tetap fokus pada bagian yang paling penting: menulis dan menyampaikan pesan lagu. Sementara aspek teknis seperti pemilihan sound, programming, struktur, groove, layer instrumen, hingga detail produksi dapat dibantu oleh tim yang memang fokus pada pekerjaan tersebut.

Jadi, jika Anda memiliki lagu yang sudah jadi secara ide tetapi masih terdengar kosong atau belum tahu harus dibawa ke arah mana, Anda bisa mempertimbangkan Jasa Aransemen Lagu dari Escapia Mount Recording sebagai partner produksi untuk membantu mewujudkan ide tersebut menjadi karya yang lebih siap didengarkan.