Pertama-tama kami mengapresiasi sekali kepada mie Gacoan yang sudah membayar royalty play music sampai 2 miliar lebih ke LMKN. Bagi saya pihak pengelola Mie Gacoan sangat kesatria dan sangat mendukung musisi dan industry music Indonesia secara keseluruhan agar tetap tumbuh dan berkembang.
Indonesia memang pangsa pasar music yang sangat potensial. Dengan penduduk yang mencapai 270 juta lebih, musisi Indonesia harusnya sejahterah dan bahkan bisa saja masuk dalam daftar musisi terkaya global mepet erat dengan musisi-musisi global selayaknya Taylor Swift.
Bukanya makmur dan bergelimangan harta dari industry music memanfaatkan ratusan juta penduduk Indonesia yang gemar mendengarkan musik, namun faktanya lain. Banyak musisi Indonesia yang masih jauh dari kata hidup layak. Banyak musisi yang lagunya viral di Tiktok, Youtube, Instagram, dll tapi sang pencipta lagu tidak mendapatkan uang sama sekali dari viralnya lagu tersebut juga ada.
Masalah Indonesia dipermusikan sangat kompleks. Mulai dari masifnya pembajakan CD music, penggunaan lagu berhakcipta oleh orang lain untuk komersialisasi tanpa izin, minimnya perlindungan hak cipta, sampai transaparansi pembagian royalty dari LMKN yang menurut saya kurang transparan juga masih jadi masalah.
Hal ini ironis dengan biaya produksi music yang sangat mahal. Untuk mendapatkan music yang kualitas internasional dan setara produksi music sekelas Taylor Swift saja butuh peralatan rekaman music ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Di studio music Escapia Mount Recording saja misalnya, untuk beli mic condenser 1 unit saja yang setara kualitas rekaman Taylor Swift butuh dana puluhan juta. Mic merek Neumann U-47 yang biasa dipakai reakman Taylor Swift itu harganya 1 unit bisa sampai 50 jutaan.
Ini baru beli mic condenser saja, sedangkan produksi music berkualitas standar industry music internasional itu butuh alat-alat rekaman lainya seperti Midi Controler, audio interface, keyboard, gitar, drum, dan alat-alat rekaman dan instrument lainya yang sangat mahal. Jika ditotal dalam 1 studio rekaman, nilai alat-alat rekaman music bisa mencapai ratusan juta – miliaran rupiah.
Supaya bisa balik modal, musisi tentu saja harus mendapatkan income dari royalty music yang ia dapatkan dari beragam jalur. Mulai dari jalur perfoming right, royalty dari hasil streaming, royalty pemutaran music di café, resto, hotels, maupun royalty dari streaming music seperti Spotify maupun Apple Music.
Kalau royalty play streaming music dari Apple Music maupun Spotify itu tidak bisa diharapkan sama sekali. Sangat kecil karena hitunganya receh hanya ratusan perak per 1 stream.
Musisi bisa menjadi gembel jalanan kalau hanya balik modal dari jalur cuan streaming music. Satu-satunya jalur yang bisa mendatkangkan kemakmuran bagi musisi Indonesia yaitu royalty dari pemutaran music di café atau resto yang dihitung per kursi, royalty dari penggunaan lagu untuk soundtrack film, maupun aksi perfoam atau manggung.
Baca juga : Proses Kreatif Escapia Mount Recording: Produksi Minus One Clarinet untuk Konsumen
Dari realita itulah, kami sangat berterima kasih sekali dengan para bos-bos resto maupun café yang berbaik hati bayar royalty music. Dari bayaran royalty tersebut, musisi akan terus hidup dan sebagian uangnya akan disihkan untuk biaya produksi album nya lagi kedepanya.
Dengan hal ini kita tidak akan menjumpai solois atau band yang baru rilis dua album tahun berikutnya langsung vakum bahkan mati. Rata-rata band maupun Solois di Indonesia itu biasanya baru rilis 2 album setelahnya tidak aktiv bermusik lagi. Hal ini disebabkan karena sistem royalty dan sistem apresiasi industry music di Indonesia belum bekerja dengan baik.
Bandingkan dengan musisi sekelas Taylor Swift maupun Beyonce. Musisi Amerika biasanya akan tetap eksis dan aktif terus bahkan sampai mengeluarkan 12 album pun masih tetap produktif. Hal ini disebabkan karena sistem apresiasi music dan industry music di Amerika Serikat betul-betul terbangun.
Belajar dari Amerika Serikat, kita kedepanya harus benar-benar mengapresiasi musisi Indonesia dengan cara mau bayar rolayti atas penggunaan hak cipta, tidak beli CD bajakan, dan tentu saja kami kritik LMKN untuk lebih transparansi dalam pembagian rolaty ke musisi. Semua ini harus dilakukan demi membuat music Indonesia bisa bereputasi global dan bisa mendominasi internasional. Korea Selatan saja bisa sebegitu mendominasi dunia dengan genre K-Popnya. Kalau korsel yang penduduknya lebih sedikit dari Indonesia saja bisa, harusnya kita jauh lebih bisa.
Demikian kritik yang disampaikan oleh Escapia Mount Recording. Semoga kritik kami bisa membangun perkembangan industry music Indonesia agar jauh lebih baik lagi.
